Kesetaraan Gender dalam Organisasi Kemahasiswaan: Harapan dan Realita

Ditulis Oleh: Mahmudi Siwi, SP

Gender merupakan konstruksi sosial budaya relasi laki-laki dan perempuan. Relasi tersebut dibangun atas pemahaman peranan yang akan dimainkan oleh laki-laki dan perempuan di masyarakat. Sifatnya yang merupakan konstruksi sosial budaya, maka sangat kontekstual berdasarkan setting sosial budaya di suatu masyarakat. Sifat tersebut juga menyebabkan konstruksi gender dapat mengalami perubahan dan dapat dipertukarkan satu dengan yang lainnya. Namun, gender sebagai salah satu nilai sosial yang berlaku di masyarakat memiliki sifat yang cenderung untuk dipertahankan sebagaimana nilai sosial yang lainnya.

Saptari (1997; 43-105) mengungkapkan bahwa pada masyarakat Indonesia yang cenderung patriarkhis masih terdapat pendikotomian nilai dan peran gender yang merupakan gambaran dari konstruksi sosial budaya relasi laki-laki dan perempuan. Pada dasarnya munculnya dikotomi tersebut tidak akan menjadi masalah selama dikotomi tersebut tidak menyebabkan merendahkan yang lain baik laki-laki maupun perempuan. Namun, pada masyarakat ditemukan pendikotomian yang merendahkan jenis kelamin tertentu dan yang lebih banyak menjadi korban adalah perempuan (Fakih, 1996; Saptari, 1997, 43-105). Hal tersebut dapat dilihat dari pembagian peranan yang diterima oleh laki-laki dan perempuan. Peran publik adalah sesuatu yang dianggap sebagai peran laki-laki, sedangkan peran domestik adalah sesuatu yang dianggap sebagai peran perempuan.

Nilai dan peran gender yang timpang tersebut masih berlaku di masyarakat. Hal ini disebabkan adanya proses sosialisasi yang terjadi pada lingkungan sosial setiap individu. Mahasiswa sebagai individu juga tidak luput dari proses sosialisasi nilai dan peran gender tersebut. Proses sosialisasi dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni agen sosialisasi, proses atau cara sosialisasi, dan isi sosialisasi.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa (1) proses sosialisasi nilai dan peran gender pada mahasiswa di lingkungan sosialnya yang terbagi dalam tiga wilayah, yakni keluarga, tempat kost dan perkuliahan; (2) karakteristik organisasi kemahasiswaan dan peranannya dalam sosialisasi nilai dan peran gender terhadap mahasiswa; dan (3) perilaku mahasiswa dalam berorganisasi yang dilihat dengan pendekatan gender.

Penelitian ini dilaksanakan di Institut Pertanian Bogor (IPB), Desa Darmaga, Kecamatan Darmaga, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat selama 2 (dua) bulan mulai bulan September 2003 sampai dengan Oktober 2003. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus. Subyek penelitian dipilih berdasarkan tipologi organisasi yang telah ditentukan terlebih dahulu.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa : pertama, pada ketiga wilayah lingkungan sosial mahasiswa (keluarga, kost dan kampus) terjadi perbedaan dalam sosialisasi nilai peran dan gender mahasiswa dengan nilai dan peran gender yang berlaku di masyarakat. Hal tersebut disebabkan prosesnya yang lebih terbuka dan demokratis sehingga memunculkan pemahaman baru pada orang tua tentang relasi laki-laki dan perempuan.

Kedua, sosialisasi nilai dan peran gender juga terjadi ketika mahasiswa telah masuk dalam organisasi. Sosialisasi nilai dan peran gender yang terjadi ketika masih aktif dalam organisasi justru lebih kuat dalam mempengaruhi perilaku mahasiswa dalam berorganisasi.

Ketiga, pada tipologi organisasi yang berbeda dengan dicirikan oleh karakteristiknya, menyebabkan pembagian kerja gender yang berbeda pula. Organisasi seperti BKIM IPB, HMI Cabang Bogor dan AGRIASWARA pembagian kerja yang terjadi antara pengurus laki-laki dan perempuan tidak disandarkan pada jenis kelamin, melainkan berdasarkan diskripsi kerja jabatan. Namun, pada BEM KM IPB, DPM KM IPB dan MENWA pembagian kerjanya masih dilandasi stereotipe terhadap mahasiswa perempuan. Stereotipe bahwa mahasiswa perempuan adalah individu yang ulet, teliti, rajin, rapi, dan tekun menyebabkan pengurus perempuan dalam organisasi BEM KM IPB, DPM KM IPB dan MENWA masih menempati posisi yang merupakan kepanjangan dari peran domestik perempuan.

Keempat, mahasiswa IPB baik laki-laki maupun perempuan memiliki akses yang sama untuk aktif di kepengurusan dalam organisasi kemahasiswaan. Kesempatan tersebut terbuka dan berlaku untuk semua kasus organisasi yang dijadikan subyek penelitian. Namun, mahasiswa perempuan belum memiliki control yang sama seperti mahasiswa laki-laki seperti yang tergambar pada organisasi BEM KM IPB, DPM KM IPB dan MENWA.

Kelima, berdasarkan alat analisa GAD (Gender and Development), yakni pembagian kerja gender, akses dan kontrol terhadap sumberdaya serta manfaat yang diperoleh, maka perilaku berorganisasi mahasiswa IPB dipengaruhi oleh permasalahan struktural dan sistem keorganisasian di IPB.

This entry was posted in Artikel and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>