Banyak yang Enggan Melapor Kasus Trafficking

BOGOR (Pos Kota) – Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak LPPM IPB Dr. Ir. Titik Sumarti, MS menjelaskan kurangnya kesadaran masyarakat untuk aktif melaporkan gejala tindak pidana perdagangan manusia(trafficking) membuat jumlahnya di Provinsi Jawa Barat masih tinggi.

Itu terbukti, berdasarkan catatan Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak tahun ini mencapai 139 korban trafficking. “Itu yang dilaporkan dan dijemput Kepala Biro Pengembangan Sosial Sekretariat Provinsi Jawa Barat. Bagaimana dengan yang tidak dilaporkan,” jelasnya.

Selain kurangnya kesadaran, juga karena kemiskinan, pengangguran dan rendahnya indeks pembangunan gender. “Untuk memberantas perdagangan manusia, diperlukan komitmen bersama, khususnya para pengambil kebijakan dalam menangani semakin maraknya perdagangan manusia,” jelasnya.

Selain itu pihaknya menyayangkan, masih banyaknya tim Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang dibentuk disetiap daerah, membuat data kasus trafficking rendah, padahal fakta di lapangan, kasus trafficking terus meningkat.

“Seperti di Kabupaten Bogor yang melapor ke P2TP2A Kabupaten Bogor pada 2010 hanya 5 kasus, sedangkan 2011 hanya 3 kasus. Ini dikarenakan rendahnya kesadaran masyarakat dan minimnya informasi soal penanganan kasus perdagangan manusia,” jelasnya.

Pihaknya apresiasi, kepada P2TP2A Cianjur yang aktif melakukan sosialisasi dan pendampingan. “Sehingga di daerahnya, cukup banyak masyarakat yang berani melaporkan tindak kejahatan trafficking. Itu terbukti, pada 2009 tercatat sebanyak 93 kasus, kemudian pada 2010 ada 46 kasus, menurun,” jelasnya.

Ketua Bidang Kerjasama P2TP2A Kabupaten Bogor Ratu Nailamuna mengatakan, korban trafficking di daeranya terbanyak dari wilayah Ciawi, Nanggung dan Cijeruk. “Kami mengakui, kurangnya sosialisasi sehingga kasus trafficking di Kabupaten Bogor yang terdata cukup rendah,” jelasnya.

Meski demikian pihaknya mengklaim sudah berhasil melakukan pendampingan terhadap para korban trafficking hingga tingkat pengadilan. “Tak hanya itu kami juga sudah mengantisipasinya salah satunya dengan cara memberikan keterampilan dan modal, agar mereka tidak tergiur oleh iming-iming para sindikat perdagangan manusia,” paparnya. (yopi/b)

Sumber: http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2011/11/16/banyak-yang-enggan-melapor-kasus-trafficking

This entry was posted in Berita and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>