• Phone: +62-251-8356420
  • Email: pkga@apps.ipb.ac.id

28 dari 100 Balita Mengalami Stunting

Pusat Kajian Gender dan Anak - IPB University > Anak > 28 dari 100 Balita Mengalami Stunting

(PKGA – IPB University – 31/10/2020) Akhir Desember lalu BPS merilis prevalensi bayi di bawah lima tahun yang menderita stunting (bertubuh pendek) mencapai 27,7 persen pada 2019. Artinya 28 dari 100 balita masih memiliki tinggi badan kurang dari ukuran normal.

Kondisi tersebut seperti yang dituliskan oleh Annisa Nurul Ummah pada portal The Conservation. Menurut Annisa Nurul Ummah yang menjelaskan sebagai berikut:

Secara statistik pada September 2019, angka kemiskinan Indonesia menjadi 9,22 persen, turun 0,19 persen dibanding Maret 2019. Namun pada akhir Desember lalu BPS merilis prevalensi bayi di bawah lima tahun yang menderita stunting (bertubuh pendek) mencapai 27,7 persen pada 2019. Artinya 28 dari 100 balita masih memiliki tinggi badan kurang dari ukuran normal.

Apa sebenarnya yang menyebabkan masih tingginya angka stunting di Indonesia? Berikut pandangan Annisa Nurul Ummah:

Stunting pada balita merupakan kondisi kurang gizi kronis pada anak berusia 0–59 bulan yang diukur berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U). Anak yang menderita stunting memiliki tinggi badan yang tidak sesuai dengan usianya (pendek atau sangat pendek).

Penyebab utama stunting adalah pola asuh gizi yang kurang baik dan sanitasi yang kurang layak. Tim Nusantara Sehat di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, misalnya, menemui bahwa keluarga balita yang mengalami stunting kebanyakan mengalami keadaan tersebut. Mereka tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli lauk pauk yang bergizi dan tidak memiliki akses air bersih. Hal kecil menyangkut kebersihan juga kurang diperhatikan, seperti kuku anak yang hitam dan kotor dibiarkan saja. Ini menunjukkan kurangnya pengetahuan ibu.

Jika stunting ini tidak segera diatasi, maka akan berdampak pada generasi masa depan bangsa. Dampak yang disebabkan stunting oleh Annisa Nurul Ummah dijelaskan sebagai berikut:

Dampak dari keadaan anak kurang tinggi tidak hanya berpengaruh pada fisik melainkan juga mental dan emosional khususnya pada perkembangan kecerdasan dalam berpikir. Selain itu, dampak jangka panjangnya anak yang kekurangan gizi kronis pada masa pertumbuhan juga dapat meningkatkan penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes mellitus, stroke, jantung dan lain-lain. Orang yang mudah sakit menyebabkan produktifitas menurun dan dapat merugikan perekonomian negara. Selain itu, orang tidak produktif dekat dengan kemiskinan.

Sumber: Yang perlu Indonesia lakukan untuk mengurangi jumlah anak stunting

Artikel ini bermanfaat, bagikan yuks...

PKGA atau Pusat Kajian Gender dan Anak merupakan lembaga penetian dan pengabdian yang berfokus pada isu gender dan anak. PKGA berada dibawah koordinasi LPPM IPB University.

Leave a Comment

Solve : *
4 − 1 =


Arsip Berita
Kategori
Instagram
This error message is only visible to WordPress admins

Error: No connected account.

Please go to the Instagram Feed settings page to connect an account.

Archives

Categories

Meta